renungan
Oleh: Galuh Adhiyaksa A.
Senja masih
membuntuti langkahku
Antara ingkar dan pasti ku berlalu
Terseret dalam arus ideologi baru
Semakin jauh ku lepas atas jati dirimu
Terasa senja semakin dekat
Semakin ku melangkah, semakin berat
Hingga akhirnya ku duduk bersandar
Tempat dimana ku duduk dengannya
Saat dimana kami merenung bersama
Bersama melihat api turun dari surga
Dua bola matanya menatapku
Dua buah pikiran kini menyatu
Dua batang bibir saling bersahut
Dua puluh menit bertanya padaku
Tiga kalimat mencari jawabku
”taukah engkau kawan, apa itu kejujuran?”
Sesuatu yang kini berhamburan
Sesosok nilai penting yang tercampakkan
Sikap yang dulu menjadi kebanggaan
Mengapa sekarang hanya satu diantara ribuan?
”masihkah kita bangsa yang berbudaya?”
Ketika kini tak ada yang peduli akan budaya
Malu membela budaya yang diambil tetangga
Masih banyak pengemis jalan raya
Mencari seutas bahagia diantara seikat sengsara
Kemana perginya golongan muda yang berkarya?
Yang ku lihat hanya pemimpin yang tak mau turun tahta
”mungkinkah kepedulian satu sama lain akan kembali?”
Disaat musyawarah mufakat tak diterapkan lagi
Dan gotong royong menghakimi tersangka dicintai
Orasi anarkis semakin sadis, berbaris untuk tindakannya yang sadis
Dengan nasionalisme menjadi prisainya
Dan film Hollywood menjadi panduannya
Kini tercoretlah pribahasa ”susah sama dijingjing” dalam kamusmu
Karena kini susahmu adalah punyamu, dan susahku adalah punyaku
Dharma garuda telah rontok dalam sangkarnya
Nilai luhur terpangkas oleh kaum pewaris
Sadarlah hei anak bangsa!
Renungkan puisi kami para penulis!
Mengemis bukanlah budaya
Terus berkarya
Jangan tangisi kami Soekarno Hatta!
Kami akan segera bangkit
Pentium otak kini telah berubah
Namun karakter bangsa harus tetap dijaga
Kini kuberdiri diantara senja dan malam
Diantara langit dan tanah
Diantara bulan dan bumi
Namun tidak diantara ingkar dan pasti
Karena ku telah mengikat komitmen pada hati
Agar tak terseret ideologi baru lagi
Dan tetap menjaga
karakter bangsa ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar