Sabtu, 08 Maret 2014

RENUNGAN UNTUK GENERASI PENERUS BANGSA INDONESIA



                                                       renungan

Oleh:     Galuh Adhiyaksa A.


Senja masih membuntuti langkahku



Antara ingkar dan pasti ku berlalu




Terseret dalam arus ideologi baru




Semakin jauh ku lepas atas jati dirimu




 




Terasa senja semakin dekat




Semakin ku melangkah, semakin berat




Hingga akhirnya ku duduk bersandar




Tempat dimana ku duduk dengannya




Saat dimana kami merenung bersama




Bersama melihat api turun dari surga




 




Dua bola matanya menatapku




Dua buah pikiran kini menyatu




Dua batang bibir saling bersahut




Dua puluh menit bertanya padaku




Tiga kalimat mencari jawabku




 




”taukah engkau kawan, apa itu kejujuran?”




Sesuatu yang kini berhamburan




Sesosok nilai penting yang tercampakkan




Sikap yang dulu menjadi kebanggaan




Mengapa sekarang hanya satu diantara ribuan?




 




”masihkah kita bangsa yang berbudaya?”




Ketika kini tak ada yang peduli akan budaya




Malu membela budaya yang diambil tetangga




Masih banyak pengemis jalan raya




Mencari seutas bahagia diantara seikat sengsara




Kemana perginya golongan muda yang berkarya?




Yang ku lihat hanya pemimpin yang tak mau turun tahta




 




”mungkinkah kepedulian satu sama lain akan kembali?”




Disaat musyawarah mufakat tak diterapkan lagi




Dan gotong royong menghakimi tersangka dicintai




Orasi anarkis semakin sadis, berbaris untuk tindakannya yang sadis




Dengan nasionalisme menjadi prisainya




Dan film Hollywood menjadi panduannya




Kini tercoretlah pribahasa ”susah sama dijingjing” dalam kamusmu




Karena kini susahmu adalah punyamu, dan susahku adalah punyaku




 




 




 




Dharma garuda telah rontok dalam sangkarnya




Nilai luhur terpangkas oleh kaum pewaris




Sadarlah hei anak bangsa!




Renungkan puisi kami para penulis!




Mengemis bukanlah budaya




Terus berkarya




Jangan tangisi kami Soekarno Hatta!




Kami akan segera bangkit




Pentium otak kini telah berubah




Namun karakter bangsa harus tetap dijaga




 




Kini kuberdiri diantara senja dan malam




Diantara langit dan tanah




Diantara bulan dan bumi




Namun tidak diantara ingkar dan pasti




Karena ku telah mengikat komitmen pada hati




Agar tak terseret ideologi baru lagi




Dan tetap menjaga karakter bangsa ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar